Tidak Berkelahi Bukan Berarti Pengecut

Salah paham, berbeda pendapat, merasa tersinggung, atau sekadar salah bicara sering kali menjadi awal dari sebuah konflik. Yang awalnya hanya perbedaan kecil, perlahan berubah menjadi pertengkaran. Dan ketika emosi sudah tidak terkendali, adu jotos pun bisa terjadi.

Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:

Kenapa harus berkelahi?

Bukankah kita bisa duduk bersama dan membicarakan masalahnya? Bukankah kita bisa saling menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mendengarkan alasan masing-masing, kemudian mencari jalan keluar?

Memang, ketika seseorang sedang marah, berpikir dengan tenang bukanlah hal yang mudah. Ada ego yang ingin dipertahankan. Ada harga diri yang merasa diinjak. Ada keinginan untuk membuktikan bahwa kita tidak takut.

Dari situlah sering muncul anggapan bahwa mundur dari perkelahian berarti pengecut.

Padahal, apakah benar demikian?

Berani Memukul atau Berani Menahan Diri?

Kita sering menghubungkan keberanian dengan kemampuan seseorang untuk melawan. Orang yang berani maju dianggap kuat. Orang yang tidak membalas dianggap lemah.

Namun, keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan.

Ada keberanian untuk berdiri menghadapi orang lain. Tetapi ada juga keberanian untuk menahan tangan ketika kita sebenarnya mampu memukul. Ada keberanian untuk membalas perkataan dengan perkataan, bukan dengan pukulan.

Menahan diri ketika sedang marah bukan perkara mudah.

Ketika emosi sedang tinggi, mungkin rasanya jauh lebih mudah untuk melampiaskan semuanya daripada duduk dan berbicara. Tetapi justru di situlah pengendalian diri diuji.

Sebab siapa pun mungkin bisa memukul ketika emosinya meledak. Tetapi tidak semua orang mampu berhenti, menarik napas, dan berkata, “Sudahlah, kita bicarakan baik-baik.”

Apakah Menang dalam Perkelahian Berarti Menang dalam Masalah?

Misalnya dua orang berselisih karena salah paham. Mereka kemudian berkelahi. Salah satu menang dan yang lain kalah.

Lalu apa yang sebenarnya selesai?

Salah pahamnya belum tentu hilang.

Masalahnya belum tentu selesai.

Bahkan bisa jadi muncul masalah baru: luka, dendam, permusuhan, hubungan yang putus, atau persoalan lain yang jauh lebih besar daripada penyebab awal pertengkaran.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk memikirkan siapa yang menang, sampai lupa bertanya apa yang sebenarnya ingin diselesaikan.

Kalau tujuan awalnya adalah menyelesaikan masalah, maka pukulan seharusnya bukan menjadi ukuran keberhasilan.

Harga Diri Tidak Harus Dibuktikan dengan Kekerasan

Salah satu alasan seseorang memilih berkelahi adalah karena merasa harga dirinya dipertaruhkan.

“Kalau saya diam, orang akan menganggap saya lemah.”

“Kalau saya tidak melawan, saya akan diinjak-injak.”

Pikiran seperti itu sangat manusiawi. Tidak ada seorang pun yang ingin diremehkan.

Tetapi menjaga harga diri tidak selalu berarti membalas dengan kekerasan.

Kita bisa mempertahankan batas diri tanpa harus kehilangan kendali. Kita bisa mengatakan bahwa kita tidak menerima perlakuan seseorang tanpa harus melukainya. Kita bisa pergi dari sebuah konflik tanpa berarti kita kalah.

Terkadang, meninggalkan pertengkaran justru merupakan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Kita tahu bahwa tidak semua provokasi harus dijawab.

Tidak semua perkataan harus dibalas.

Dan tidak semua konflik harus berakhir dengan seseorang yang jatuh.

Berbicara Memang Tidak Selalu Mudah

Tentu saja, berbicara bukan solusi ajaib untuk semua masalah.

Ada konflik yang sangat rumit. Ada orang yang tidak mau mendengarkan. Ada situasi ketika seseorang memang harus menjauh demi keselamatan dirinya.

Tetapi selama masih memungkinkan untuk berdialog dengan aman, bukankah berbicara layak dicoba terlebih dahulu?

Duduk bersama.

Mendengarkan.

Menjelaskan.

Mengakui kesalahan jika memang salah.

Dan mencari jalan keluar yang tidak membuat kedua pihak semakin terluka.

Mungkin kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Mungkin kita tetap berbeda pendapat. Tetapi berbeda pendapat tidak berarti kita harus menjadi musuh.

Jadi, Siapa yang Sebenarnya Pengecut?

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang tentang keberanian.

Pengecut bukanlah orang yang memilih untuk tidak berkelahi.

Dan orang yang berkelahi bukan otomatis orang yang pemberani.

Keberanian tidak hanya diukur dari seberapa kuat seseorang memukul atau seberapa berani seseorang menghadapi lawannya.

Keberanian juga terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Berani mengakui kesalahan.

Berani meminta maaf.

Berani mendengarkan pendapat yang berbeda.

Berani meninggalkan konflik yang tidak perlu.

Dan yang paling sulit, berani menahan diri ketika emosi menyuruh kita untuk menyerang.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memenangkan setiap pertengkaran.

Kita tidak harus membuktikan bahwa kita lebih kuat dari semua orang. Kita juga tidak perlu membuat orang lain takut untuk merasa berharga.

Sebab kemenangan yang sesungguhnya mungkin bukan ketika lawan kita jatuh.

Mungkin kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika sebuah masalah bisa selesai tanpa ada yang harus terluka.

Jadi, ketika suatu hari kita berada dalam sebuah konflik dan ada kesempatan untuk memilih antara adu jotos atau duduk dan berbicara, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

“Aku ingin menyelesaikan masalah ini, atau hanya ingin melampiaskan emosi?”

Karena tidak berkelahi bukan berarti pengecut.

Kadang-kadang, justru orang yang mampu menahan dirinya adalah orang yang paling berani.